A SIMPLE MINDED PERSON

30 Maret 2019

KENAPA YA?

Kenapa ya orang - orang senengnya ribut? Beda pendapat, ribut. Beda keyakinan, berantem. Beda warna kulit, rusuh. Apa gitu tujuannya? Padahal perbedaan itu adalah hal yang lumrah. Manusia punya caranya masing - masing untuk bertahan hidup dan bahagia. Selama hal itu gak melanggar undang - undang atau peraturan lain yang secara sah berlaku, ya, gak masalah, kan? Jangan suka membesar - besarkan hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan sekali duduk dan diskusi. 

Beberapa minggu yang lalu, saya kelar baca Titik Nol, tapi males bikin review, hahahahahaha. Jadi saya mau share beberapa quotes dari beberapa buku itu yang menurut saya menarik.
  1. Di negeri kelahiranku, aku dianggap sebagai orang luar. Bahkan hingga ke tanah leluhur pun, aku tetaplah hanya sebagai orang asing. Siapa yang sebenarnya menggambar garis - garis batas negeri di muka bumi, yang kemudian mengklaim ini punyaku itu punyamu? Siapa yang membuat alam raya terpetak - petak dibatasi berbagai dinding tak kasatmata? Siapa yang menentukan suku - suku, bangsa - bangsa, ras dan etnis? Siapa pula yang tega mengobarkan perang dan pertumpahan darah, demi gari - garis batas itu? (hal.35)
  2. Justru karena masih ada mimpi, kita jadi punya alasan untuk terus hidup, terus maju, terus berjalan, terus mengejar. Tanpa mimpi sama sekali, apa pula arti hidup ini? (hal. 65)
  3. Kita yang hidup di alam modern sering kali berbangga dengan pencapaian, dengan gedung - gedung tinggi, rumah mewah, kekayaan, nilai sempurna, kekuasaan, nama besar. Kita anggap orang - orang yang melepaskan semuanya untuk menggelandang sebagai gila atau kurang waras. Mungkin, justru kitalah yang gila. Kita percaya bahwa semua yang kita cari itu akan membawa kebahagiaan. Kita terobesesi, kita menderita, dibelenggu keserakahan yang tak habis - habis, tapi tidak ketemu juga kebahagiaan sejati itu. (hal. 158)
  4. Sebagai penyelam, dia pernah tinggal berbulan - bulandi Pulau Togean, yang aku pun-oh malunya-bahkan tak tahu ada dimana.Dia menyebut Indonesia sebagai surga diving terindah di dunia. Tanimbar, Wakatobi, Bunaken, Komodo, semua sudah dijajal. Berpergian di Indonesia memang susah, katanya. Transportasi minim, informasi nyaris tak ada, visa pun ribet, hampir tak ada infrastruktur untuk kenyamanan turis. Beda dengan negara tetangga, yang begitu memanjakan dan membuka pintu lebar - lebar bagi para pendatang asing. "Tapi itu pula yang menjadikan Indonesia sebagai traveler's gem, permata yang penuh kejutan bagi para musafir. Surga eksklusif. Aku tiddak bisa membayangkan alam pulau - pulau kecil Indonesia yang rapuh itu kalau terkena serbuan turisme massal," kata Jorg. (hal. 179)
  5. Perjalanan bukan hanya berpindah, tapi juga untuk berhenti. (hal. 316)
Hmmm, quotes nomor 1 adalah pertanyaan yang terus muter di kepala sejak saya mulai bisa berpikir secara rasional. Setiap kali nonton dokumenter soal perang, perasaan saya campur aduk antara marah dan sedih. Apa sih untungnya perang? Rebutan batas wilayah? Mempertahankan eksistensi dan ideologi? Biar dibilang apa? Biar dibilang hebat? Yaudah, WOW! CLAP CLAP CLAP!

Beberapa hari ini juga saya mantengin video dari Asian Boss soal orang - orang yang kabur dari Korea Utara dan diskusi mengenai kemungkinan terjadinya persatuan antara Selatan dan Utara. Menarik, cerita mereka. Banyak dari mereka melarikan diri karena menginginkan kebebasan, jelas. Walaupun informasi mereka dibatasi, tapi saat terus - terusan hidup dengan merasa kelaparan dan ketakutan, wajar jika manusia berusaha untuk mencari tempat yang lebih baik. Walaupun memang setiap tempat pasti punya masalahnya masing - masing, setidaknya kita berjuang.


Kenapa ya saya gak bisa fokus? Maksudnya, saya juga punya sesuatu yang saya kejar dan ingin capai, tapi saya gak tahu apa yang harus saya prioritaskan. Gimana gitu, ya, cara menghitung skala prioritas untuk hidup manusia? Kita sebenernya nyari apa, sih, di dunia ini? Ini sebenernya mau ngeblog tentang apa, sih? Wkwkwkwk.