A SIMPLE MINDED PERSON

27 November 2018

Mr Sunshine


"Kemerdekaan dan kedaulatan dari sebuah bangsa tidak mungkin diraih sendirian. Setiap warga negara harus membantu terciptanya cita - cita tersebut. Mereka yang rela mati demi cita - cita tersebut dengan dan/atau tanpa gelar dapat dikatakan sebagai seorang pahlawan."

Mr. Sunshine bisa dibilang sebagai drama yang dipersembahkan untuk mereka yang pernah melindungi Joseon gak, sih? Ya, walaupun sekarang kemungkinan besar banyak dari mereka yang udah gak ada, tapi gak ada salahnya mengingat perjuangan mereka.


Karena drama ini, saya mengesampingkan rasa tidak suka pada Lee Byung Hun, karena awalnya saya gak mau nonton drama ini karena dia pemeran utamanya, haha, padahal pengen banget liat Kim Tae Ri sama Yeo Yoon Seok. Jadinya dilema, deh. Dan saya juga bukan penggemar drama buatan Kim Eun Sook, karena biasanya drama dia kan agak cheesy, walaupun saya suka Goblin (thanks to Grim Reaper's Couple) dan Lovers in Paris (thanks to Lee Dong Gun).

Drama 24 episode ini bercerita mengenai 5 orang Joseon dengan latar belakang, kisah, tujuan, dan luka yang berbeda - beda. Si Mr. Sunshine ini sendiri adalah Kapten Korps Marinir US yang ternyata adalah seorang budak pas dulu tinggal di Joseon, Choi Yu Jin nama aslinya. Ibunya meminta dia lari sejauh - jauhnya saat mereka sekeluarga sedang disiksa oleh sang majikan. Yu Jin kecil lari ke US dibantu oleh seorang misionaris sampai akhirnya dia mengganti namanya menjadi Eugene Choi, mendapatkan kewarganegaraan US sana dan bahkan menjadi tentara. Karena suatu hal, Eugene dan atasannya, Kyle Moore, ditugaskan ke Joseon. Nah, di Joseon ini Eugene ketemu sama Go Ae Shin, cucu dari Guru Raja Gojong yang patriotik abis. Karena pandangan yang berbenturan maka mereka saling meragukan satu sama lain awalnya. Tapi setelah saling mengenal dan mengerti luka masing - masing, akhirnya mereka berteman baik dan saling membantu.


Itu baru dua karakter utamanya, masih banyak karakter lain yang kisahnya gak kalah menarik. Ada Gu Dong Mae, anak seorang jagal yang lari ke Jepang dan jadi Samurai kejam. Kim Hui Seong, anak orang paling kaya di Joseon yang supel tapi agak nyebelin. Hina Kudo si pemilik Glory Hotel yang sebetulnya adalah orang Joseon. Dan salah satu yang paling menarik perhatian saya, Jang Seung Goo, seorang penembak yang punya dendam kesumat sama Raja dan negaranya.


Disini Yeo Yeon Seok jadi maco gitu dah, caem, tapi hobinya nebas kepala orang, hih. Tobat mas, tobat.

Saya mau kasih tau beberapa scene favorit dari drama ini. Eh, tapi kalo episode 1 itu gak bisa di screen capture, ya. Karena dari awal sampe akhir itu favorit semua. Haha


Ini adalah scene dimana akhirnya Eugene kasih tau Ae Shin kalau di Joseon dulu statusnya adalah seorang budak, dia melarikan diri untuk menghindari majikannya yang kejam dan sedikit pandangan dia soal Joseon. Yang paling menyayat hati adalah pertanyaan dari Eugene berikut :

E : Joseon is the country that killed my parents. It's the one I escaped from. That's why I wanted to crush it, leave it, and go back to my homeland which is America

E : This country you're trying to protect, who is it for? Is there a life for butchers? Is there a life for slaves? 

Dan Ae Shin, cuma bisa nangis karena dia bingung. Matanya terbuka selebar - lebarnya mengenai pemberlakuan kasta sosial di negara yang sangat dia cintai itu. Dan saya sebagai penonton pun ikut menangis dan tertegun atas pertanyaan itu.

Nah, mulai dari episode 19 perang mulai intens, nih. Buanyak banget scene yang bikin hati saya jadi linu. 


Istri dari Jang Seung Goo harus membayar mahal tindakan heroiknya. Dia dibunuh dan diiket di jembatan untuk dijadikan contoh. Dan tiap ada adegan orang meninggal begini pasti deh lagunya Hwang Chi Yeul - How Can I Forget You, kan jadi nambah sedih.


Raja Gojong dipaksa turun takhta, yang dilanjutkan dengan kematian Jang Seung Goo yang melindungi sang Raja dan rakyat Joseon berduka cita. Sumpah deh, mungkin karena ngikutin drama ini dengan serius dari awal, jadi berasa saya juga keilangan negara, sedih.


RIP Hina Kudo a.k.a Lee Yang Hwa, Haengrang, Haman-daek, padahal harapan terakhir mereka beruda adalah bisa berpegangan tangan TT.TT


Warga sekitar bersatu melindungi Lady Ae Shin yang sedang berduka. Di bagian ini ada VO dari Eugene yang isinya kira - kira mengatakan bahwa warga Joseon belum berubah, bahkan di hadapan kekalahan mereka masih berdiri dengan berani dan melawan musuh. Pas liat scene ini, saya sama sekali gak ngerasa bahwa mereka stupid ataupun gila, mereka melindungi keluarga mereka walaupun yang tersisa tinggal semangat dan keberanian.


Saat Gwan Soo menyebutkan (atau lebih tepatnya meneriakkan dengan histeris) satu per satu nama - nama Pasukan Kebenaran yang gugur di hadapan Raja, bukan jenazah yang dia bawa, hanya rentetan nama, tapi dukanya sebanding.


Dramanya habis, tapi perjuangannya belum. Keren sih drama ini, terbaik dari Kim Eun Sook, usahanya luar biasa.

Eh, iya, ketinggalan beberapa hal :



Gu Dong Mae ini salah satu karakter yang jujur aja kurang saya pahamin visi dan misinya, hahahaha. Dia gak peduli soal perebutan takhta dan dia juga kayanya gak peduli apa dia orang Jepang atau Joseon. Dia juga kayanya gak peduli sama perang yang lagi berkecamuk. Dan dia juga bukan pendukung dari salah satu kubu, tapi dia juga bukan penghianat. Yang saya pahamin, dia ini tergila - gila sama Ae Shin, udah. Karakternya simpel, yes. 


Saya tahu kalo Byun Yo Han ini aktingnya emang bagus, tapi di drama ini doi superb dah. Kim Hui Seong keliatan seperti seorang Tuan Muda Flamboyan yang gemar buang - buang uang, mabuk dan judi, tapi ternyata isi kepalanya itu rumit. Dia gak suka saat Kakeknya dengan semena - mena menginjak harga diri orang yang kastanya lebih rendah, tapi dia juga gak bisa berbuat apa - apa. Makanya tiap kali ada orang yang siram dia pake aer karena kesel sama Kakeknya atau Ayahnya, dia cuma bisa bilang, "Ini karma keluargaku." 


Suka heran sama penghianat kaya gini, apa gitu ya yang ada di kepalanya. Kisah mereka apa gitu, loh, sampe mereka bisa tega menjual negaranya sendiri. 

Mungkin kita gak bisa mempelajari sejarah dari drama ataupun film, karena mungkin, mungkin saja ada beberapa hal yang ditambah atau dikurang untuk kepentingan drama atau film tersebut. Tapi drama ataupun film sejarah seperti ini adalah salah satu kunci supaya kita merasa penasaran dan mulai mencari tahu lebih jauh. Drama Sageuk pertama saya adalah Dae Jang Geum, dari situ saya mulai penasaran dan belajar baca Hangeul lalu belajar sedikit sejarah Korea. See? Drama based on sejarah itu luar biasa, loh.

Perasaan saya nonton drama Mr. Sunshine ini mirip sama perasaan saya nonton dokumenter peperangan. Pertanyaan yang saya ajuin pun mirip, "Perang untuk apa, sih? Perang untuk siapa sebetulnya?"

Hmmm, untung saya gak hidup di masa itu. Jadi saya gak perlu ngerasain hal - hal menyedihkan yang ditimbulkan dari peperangan.

14 November 2018

BOHEMIAN RHAPSODY

 Conclusion : Ay-Oh!
Rating : 4 of 5

Pasti banyak yang penasaran sama film ini karena liat trailernya yang keren, kan? Keren, sih, si Rami Malek di film ini kaya kesurupan Freddie Mercury. Walaupun menurut saya Freddie yang asli tentu masih jauh lebih keren. He's a legend after all.

Walaupun gak lahir di era Queen, pasti banyak diantara kita (kita?) kenal atau setidaknya tahu siapa itu Queen dan Freddie Mercury serta penggalan 'kisah' dia. Kita juga pasti tahu beberapa lagu terkenal mereka. Saya pribadi, pertama kali denger lagu Queen pas SMA, Bohemian Rhapsody. Dalam benak SMA saya, lagu ini menciptakan adegan berdarah - darah diantara keluarga yang kurang harmonis. Saya juga masih inget waktu itu mikir kalo lagu ini agak aneh tapi kok ya bikin penasaran. Kalimat paling ngena di lagu BoRap menurut saya sekarang ini adalah : Mama, I don't wanna die, I sometimes wish I'd never been born at all. Aneh, bagaimana lagu yang sama bisa menimbulkan perasaan berbeda saat didengarkan di waktu yang berbeda.

Banyak yang bilang film Bohemian Rhapsody ini kurang greget, kurang menggambarkan musikalitas Queen, dan banyak bagian (cerita) yang kaya mengarang bebas. Saya pikir film ini secara keseluruhan bagus, bahkan saya ngerasa nonton 1 kali itu kurang makanya saya sampe nonton 2 kali, pertama kali untuk menikmati ceritanya dan kedua kali untuk menikmati musiknya. Setelah nonton 2 kali, saya akhirnya ngerti kekecewaan dari beberapa orang tersebut. Memang ada beberapa hal yang aneh, kesannya jadi bikin si Freddie Mercury ini rada nyebelin dan member yang lain bersih seputih malaikat. Jadinya kurang seimbang gitu, loh. Well, tapi setidaknya Bohemian Rhapsody ini berhasil menggiring publik yang tidak begitu mengenal Queen jadi penasaran dan mencari tahu lebih lanjut soal band legendaris ini. Dan mungkin karena Bohemian Rhapsody juga pasti banyak orang yang mulai cari tahu lagu-lagu Queen, kaya saya yang jadi suka banget sama Love of My Life dan Radio Ga Ga. Dan karena Bohemian Rhapsody ini juga saya tahu kalau cinta sejati Freddie Mercury adalah seorang cewek bernama Mary Austin. Ini kisah cinta dan pertemanan yang tulus dan bikin terharu, sih.

Beberapa adegan di film ini berhasil membuat saya mewek jelek. Pas adegan awal denger lagu Doing Alright, udah nangis aja. Pas Freddie nyanyi BoRap sendiri pake piano, nangis lagi. Pas Freddie setel lagu Love of My Life unutk Mary, nangis. Nangis paling parah pas konser Live Aid, padahal ya lagunya jingkrak-jingkrakan, kok ya nangis, heran juga. Ditambah lagi pas Freddie bilang, "So long and goodbye!" nangis lagi. Yaelahhh diriku ini apa banget deh.

Oh, saya nonton video Live Aid duluan sebelum film ini, supaya bisa membandingkan semirip apa. Bisa dibilang 80% mirip loh, keren. Sampe gelas - gelas di atas piano itu juga dibuat sama. Liat deh.


Kalo personil Queen masih lengkap, mereka adalah salah satu band yang paling ingin saya saksikan secara live.