Cemacem

12 Januari 2017

Critical Eleven


A novel by Ika Natassa

My Rating : 2.5

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.


In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama krisis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah akan menjadi perpisahan.


Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.


Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedy besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan mereka.


Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.


Review:


Well, sorry to say, but I don’t really like this book. Kenapa? Ada beberapa faktor yang membuat saya merasa tidak nyaman ketika membaca buku ini. Dan ternyata setelah membaca referensi pembaca yang lain di Goodreads, sepertinya kami bisa membaca pikiran satu sama lain. Hampir semuanya mengatakan hal yang sama seperti apa yang ingin saya sampaikan sekarang.


Ide cerita Critical Eleven ini menurut saya menarik, mengenai mereka yang menyesali pilihannya, dalam hal ini adalah pasangan hidup. Entah itu karena terlalu terburu-buru atau karena hal yang dulunya mereka pikir adalah cinta. Cara bercerita Ika juga merupakan salah satu yang cukup asyik, terbukti dengan saya dapat menyelesaikan sebuah novel yang sebenarnya bisa dibilang ‘njlimet’ karena ceritanya seperti muter disitu-situ saja. Dalam hati saya terus bertanya-tanya, “Ini cerita kapan tamatnya, sih? Gak dibaca sayang, udah bayar beli buku.”


Membaca novel ini rasanya seperti saya sedang digurui, karena di tiap bab ada banyak sekali ‘pengetahuan baru’ untuk kami para pembaca. ‘Pengetahuan Baru’ itu seolah-olah berdiri sendiri dengan dagu terangkat tinggi, lalu dia mengatakan, “Cepetan baca ilmu gue, biar lu gak bego-bego amat, dasar rakyat jelata.” Kalau saja ‘pengetahuan baru’ itu bisa sedikit dikurangi mungkin novel ini akan menjadi sedikit lebih membumi. Sedikit. Ya, memang hanya sedikit. Karena ada hal lain lagi. Yaitu…


Terlalu banyak pemakaian kalimat dalam Bahasa Inggris dan penyebutan nama barang-barang bermerek. Hal ini membuat saya merasa ‘kecil’, entah mengapa begitu. Mungkin karena saya adalah salah satu rakyat jelata, jadi setiap kali ada nama merek atau nama toko apalah yang disebut di dalam novel ini saya terus saja teringat pada seorang teman yang selalu melakukan aksi pamer lewat social medianya. Dan menurut saya, buku ini tak ubahnya adalah si teman saya itu dalam bentuk buku. 
Cih, norak.


Sekali lagi harus saya ungkit, kalau bukan karena sayang sudah keluar uang untuk membeli buku ini, ah, sudahlah.

Oh iya, si pemeran utama wanita – Anya – ini juga menurut saya nyebelin banget. Duh, gimana, ya. Berlebihan, mungkin, ya. Iya, tahu, dia pasti sakit hati banget suami yang sangat dia cintai itu, yang katanya perfect itu, mengatakan sebuah hal yang sungguh jahat. Tapi, kok, ya, kenapa gak ada action sama sekali, gitu. Kabur, teriak, marah, banting barang, atau apalah, jangan diem aja gitu, dong kalau memang marah. Duh, geregetan tau, gak. Jadi permasalahan di novel ini sebetulnya adalah, Anya sedih tapi Anya masih cinta Ale tapi Anya tidak mau disakiti lagi jadi Anya lebih memilih untuk diam. Memangnya dengan terus diam masalah bisa selesai, gitu, Nya? Speak Up, Anya! OMG


Walau sebel setengah hidup sama Anya, tapi saya jatuh hati sama Ale. Berharap penuh kalau naik pesawat sendirian akan ketemu pria semacam si Ale ini. Terus kenalan, terus, ehem ehem. Ya Tuhan, 2017 loh, ini. Jangan biarkan hamba single terlalu lama, ya.


Skip.


Sayang banget, padahal idenya oke, tapi karena eksekusinya kurang baik jadi saya hanya bisa kasih bintang sebegitu adanya. Saya harap bisa membaca karya Ika Natassa lainnya yang lebih membumi dari novel ini dan novel-novelnya yang lain.


Dan seandainya novel ini sungguh diangkat ke layar lebar, saya gak akan mau nonton kalau jalan ceritanya masih seperti ini. Karena saya, tipe orang yang bahkan kalau nonton film horor atau action atau thriller di bioskop itu bisa ketiduran padahal yang lain lagi teriak seru, apalagi kalau hanya film romantis. Iya, memang saya begitu, mau gimana lagi. Memang sudah keras kepala dari orok.


Harapan saya, kalau memang benar novel ini diangkat ke layar lebar, semoga aktor pemeran Alenya keren dan ganteng. Haha. Dan yang lebih penting, semoga apa yang tidak tereksekusi dengan baik di dalam novel ini dapat dieksekusi dengan lebih baik dalam film. 


Selamat malam.